<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Maherani's Weblog</title>
	<atom:link href="http://maherani.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://maherani.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jul 2007 03:20:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='maherani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Maherani's Weblog</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://maherani.wordpress.com/osd.xml" title="Maherani&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://maherani.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Ziarah Kubur</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ziarah-kubur/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ziarah-kubur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:55:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ziarah-kubur/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Dulu aku melarang kalian semua berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah.” (HR: Muslim), dalam riwayat At Tirmidzi, “Karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada akhirat.” Ziarah kubur dilarang pada masa awal perkembangan Islam karena masalah ini memang sangat rawan akan bahaya kesyirikan dan kondisi keimanan para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=52&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Dulu aku melarang kalian semua berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah.” (HR: Muslim), dalam riwayat At Tirmidzi, “Karena sesungguhnya ziarah kubur itu mengingatkan kepada akhirat.” Ziarah kubur dilarang pada masa awal perkembangan Islam karena masalah ini memang sangat rawan akan bahaya kesyirikan dan kondisi keimanan para shahabat masih dalam tahap pembinaan. Jadi sebagai tindakan preventif sangatlah wajar jika beliau melarang kaum muslimin untuk melakukan ziarah kubur.</p>
<p>Bahkan ketika para shahabat telah menjadi orang-orang mukmin pilihan beliau masih tetap saja memperingatkan mereka dari bahaya kubur, sebagaimana tercermin dalam sabda beliau menjelang wafatnya, yang artinya: “Alloh melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid.” (HR: Bukhori Muslim)<span id="more-52"></span></p>
<p>Peringatan tersebut tentunya juga ditujukan kepada kita semua selaku umat Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam yang sudah berada jauh dari generasi shahabat, apalagi jika aqidah kita masih sangat pas-pasan bahkan cenderung masih lemah. Jangan sampai izin yang diberikan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam justru menjadi bumerang yang berbalik membinasakan kita. Bukannya pahala ziarah yang didapat, namun malah terjurumus dalam jurang dosa bahkan dosa yang tak terampunkan yakni dosa syirik.</p>
<p>Kalau kita perhatikan, ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam saat itu memang terjadi di zaman ini, di mana masih banyak kita dapati kaum muslimin yang salah dalam menerapkan aturan ziarah kubur. Mereka melakukan ziarah sekedar mengikuti apa yang menjadi kemauan sendiri atau sesuatu yang sudah menjadi tradisi tanpa memperhatikan nilai-nilai dan rambu-rambu syari’at.</p>
<p>Beberapa Kekeliruan Seputar Ziarah Kubur</p>
<p>   1. Mengkhususkan waktu-waktu tertentu dalam melakukan ziarah kubur seperti pada bulan sya’ban (jawa: ruwah) ataupun pada hari raya I’dul Fithri. Atau dengan kata lain menjadikan kuburan sebagai ied (perayaan) dan tempat berkumpul untuk menyelenggarakan acara ibadah di sana. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai ‘ied (perayaan).” (HR: Abu Daud)<br />
   2. Berdoa kepada penghuninya terutama sering terjadi di kuburan orang shalih. Ini termasuk syirik besar, karena berdoa seharusnya hanya ditujukan kepada Alloh saja. Demikian pula menyembelih di sisi kuburan dan ditujukan kepada si mayit.<br />
   3. Sujud, membungkuk ke arah kuburan, kemudian mencium dan mengusapnya.<br />
   4. Shalat di atas kuburan. Ini tidak diperbolehkan kecuali shalat jenazah. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian sholat di atas (menghadap) kubur.” (HR: Muslim)<br />
   5. Menaburkan bunga-bunga dan pelepah pepohonan di atas pusara kubur. Adapun apa yang dilakukan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika meletakkan pelepah kurma di atas kubur adalah kekhususan untuk beliau dan berkaitan denga perkara ghaib, karena Alloh memperlihatkan keadaan penghuni kubur yang sedang disiksa. Demikian juga dengan membakar dupa, kayu cendana ataupun kemenyan.<br />
   6. Mempunyai persangkaan bahwa berdo’a di kubur itu lebih terkabulkan sehingga harus memilih tempat tersebut.<br />
   7. Memakai sandal ketika memasuki pekuburan.<br />
   8. Duduk di atas kubur.</p>
<p>Maka selayaknya setiap muslim berpegang dengan ajaran agamanya, yaitu Kitabulloh dan Sunnah Nabinya serta menjauhi segala bentuk bid’ah dan khurafat yang tidak pernah diajarkan dalam Islam. Dengan itulah kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak. Karena seluruh kebaikan itu ada dalam ketaatan kepada Alloh dan RosulNya sedangkan keburukan selalu ada dalam kemaksiatan dan kedurhakaan.
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/52/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/52/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=52&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ziarah-kubur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Virus Yang Mewabah di Tengah Ummat</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-virus-yang-mewabah-di-tengah-ummat/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-virus-yang-mewabah-di-tengah-ummat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:55:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-virus-yang-mewabah-di-tengah-ummat/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Sungguh aneh bin ajaib kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa pada saat ini dakwah yang menyerukan kepada tauhid dan mengingatkan pada syirik adalah sudah tidak relevan. Sebab di zaman yang modern seperti ini sudah banyak orang yang mempercayai adanya Tuhan dan sangat jarang ditemui ada orang yang menyembah patung, bintang, matahari, berhala dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=51&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Sungguh aneh bin ajaib kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa pada saat ini dakwah yang menyerukan kepada tauhid dan mengingatkan pada syirik adalah sudah tidak relevan. Sebab di zaman yang modern seperti ini sudah banyak orang yang mempercayai adanya Tuhan dan sangat jarang ditemui ada orang yang menyembah patung, bintang, matahari, berhala dan sebagainya. Mereka juga mengatakan bahwa sekarang ini kita harus memfokuskan dan memperhatikan bagaimana kita harus melawan orang-orang kafir dan merebut kekuasaan.<br />
<span id="more-51"></span><br />
Pandangan seperti ini muncul karena memang dangkalnya ilmu dan pemahaman yang ada pada orang tersebut, tidak faham apa itu pengertian tauhid dan syirik dengan benar, serta tidak faham dengan inti dakwah setiap rosul. Bukan berarti bahwa melawan orang kafir itu tidak penting. Tidak, sekali-kali tidak! Dengan tulisan ini semoga dapat mendudukkan masalah ini secara benar dan dapat menyadarkan kaum muslimin dari keterlenaannya.</p>
<p>Tauhid Bukan Sekedar Percaya Adanya Tuhan</p>
<p>Sebagian kaum muslimin yang beranggapan bahwa apabila seorang itu telah mengakui adanya Tuhan, maka dia sudah dikatakan bertauhid. Mereka lupa bahwa ini hanyalah bagian dari tauhid, bahkan hanya bagian kecil darinya. Dan belumlah seseorang itu dianggap bertauhid hanya dengan bagian yang ini saja. Sedangkan bagian tauhid yang lain bahkan yang paling pokok di antaranya justru tidak faham. Setiap orang wajib mengesakan Alloh dalam rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat-Nya. Jika ketinggalan satu saja dari ketiga tauhid tersebut belumlah dia dikatakan sebagai seorang yang bertauhid.</p>
<p>Lihatlah kaum musyrik quroisy, bukankah mereka juga mengakui adanya Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, bahkan bukankah mereka juga menyembah Alloh? Kenapa mereka masih diperangi oleh Rosululloh? Alloh  Subhanallohu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: ”Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kamu tidak betakwa (kepada-Nya)?” (QS: Yunus: 31)</p>
<p>Syirik Bukan Sekedar Sujud Kepada Patung</p>
<p>Syirik adalah menyamakan selain Alloh Subhanallohu wa Ta’ala dengan Alloh dalam perkara yang menjadi kekhususan atau hak bagi Alloh Subhanallohu wa Ta’ala. Dari definisi ini, maka jelaslah bagi kita syirik itu tidak hanya sebatas menyembah dan sujud kepada berhala, patung, matahari dan lain-lain, namun lebih luas daripada ini.</p>
<p>Kita lihat juga kaum musyrik yang diperangi oleh Rosululloh shollallohu ’alaihi wassalam dulu, apakah mereka murni benar-benar menyembah atau sujud kepada berhala dan yang lainnya hanya karena mereka batu dan pohon? Ternyata tidak, Alloh Subhanallohu wa Ta’ala menceritakan ucapan mereka, yang artinya: “Tidaklah kami menyembah mereka melainkan agar mereka dapat mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat-dekatnya.” (QS: Az-Zumar: 3). Mereka menyembah berbagai sesembahan tersebut dengan harapan akan memerantarai pada Alloh.</p>
<p>Syirik juga tidak terhenti di sini, ada juga syirik dalam ketaatan. Tatkala Rosululloh shollallohu ’alaihi wassalam membacakan ayat, yang artinya: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tandingan (tuhan) selain Alloh.” (QS: At-Taubah: 31). Sahabat Adi bin Abi Hatim yang pada waktu itu baru masuk Islam menyanggah: “Tidaklah kami itu menyembah mereka”. Maka Rosululloh menjawab, yang artinya: “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut mengharamkan, dan bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Alloh lalu kalian pun ikut menghalalkan?” Maka Adi bin Abi Hatim pun menjawab: “Benar”. Rosululloh berkata: ”Itulah peribadahan kepada mereka”. Lalu sekarang, betapa banyak kaum muslimin yang mereka ikut menghalalkan yang semestinya harom dengan landasan hawa nafsu? Na’udzu billah.</p>
<p>Syirik tidak hanya terbatas pada amalan badan, namun juga amalan hati dan lisan. Alloh berfirman, yang artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Alloh.” (QS: Al Baqoroh: 165)</p>
<p>Realita Yang Ada di Masyarakat Sekarang Ini</p>
<p>Sungguh aneh masyarakat kita sekarang ini, mereka akan begitu sangat marah apabila ada orang non islam yang mempropagandakan agama mereka dan mengajak orang lain kepada agama mereka. Namun pada saat yang sama, dia telah membiarkan dirinya, anak-anaknya dan keluarganya untuk diseret dan dipengaruhi oleh kesyirikan dan dijauhkan dari aqidah yang lurus, yakni dengan membiarkan di rumahnya sebuah televisi yang tiap harinya selalu dijejali dengan acara-cara kesyirikan. Seolah-olah mereka mengatakan: “Mari silakan masuk, ajari dan pengaruhi keluarga kami dengan acara-acara syirik, bid’ah dan maksiat kalian”. Na’udzu billah!! Bukankah ini terjadi karena tidak fahamnya mereka terhadap apa itu syirik, ancaman dan bahayanya? Ataukah merasa juga telah merasa aman dan jauh akan terjatuh di dalamnya?</p>
<p>Anak-anak kita sudah terbiasa disuguhi dengan film tentang peri, hantu, dukun, sihir, jimat-jimat dan film misteri yang penuh kesyirikan. Sementara anak mudanya tenggelam dalam ramalan bintang/zodiak. Sadarlah wahai saudaraku! itu semua adalah termasuk amalan-amalan kesyirikan.</p>
<p>Dengan Dalih Budaya dan Adat Istiadat</p>
<p>Lebih ironi lagi, ternyata kita juga hidup disuatu masyarakat yang diantara adat istiadat dan budaya mereka merupakan amalan-amalan kesyirikan. Ketika kita mengingatkan mereka ternyata mereka malah balik menuduh bahwa kita adalah orang yang kaku dan tidak faham terhadap esensi dan transformasi nilai. Namun sayang ketika mereka berusaha untuk dijelaskan dan diajak untuk “sedikit” berpikir, hati mereka sudah diliputi oleh dua penyakit yaitu taqlid (ikut-ikutan) dan ta’ashshub (fanatik). Kalau begitu, bagaimana kebenaran ini akan sampai?</p>
<p>Alloh berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS: Al-Baqoroh: 170)</p>
<p>Kita lihat di sana ada acara nyadran, sekaten, ngelarung, sedekah bumi/laut, suronan dan lain-lain, yang mana acara-acara itu di masyarakat kita sudah mendarah daging, bahkan sudah menjadi komoditi bisnis dan mata pencaharian. Sungguh ironi, mereka beralasan bahwa ini adalah budaya nenek moyang yang harus dilestarikan. Allohu akbar!! Inilah alasan yang menjadi jurus pamungkas kaum musyrikin zaman Rosululloh shollallohu ’alaihi wassalam tatkala mulut mereka tidak mampu lagi menjawab hujjah Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, Na’udzu billah.</p>
<p>Mengingat akan parahnya keadaan ini, maka sudah menjadi tugas kita semua untuk saling mengingatkan dan terus untuk mengingatkan. “Dan tetaplah beri peringatan, karena peringatan itu memberikan manfaat terhadap orang-orang yang beriman.” (QS: Adz-Dzariyat: 55)</p>
<p>(Sumber Rujukan: Kitab Tauhid dan berbagai sumber)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=51&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-virus-yang-mewabah-di-tengah-ummat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Warisan Nabi Yang Terlupakan</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-warisan-nabi-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-warisan-nabi-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:55:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-warisan-nabi-yang-terlupakan/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Anda pernah sakit gigi? Kemana Anda pergi berobat? Tentunya dokter gigi bukan? Kenapa Anda tidak pergi ke montir mobil atau tukang cukur tatkala Anda sakit gigi? Ya’, tepat sekali, karena dokter gigilah yang mengetahui masalah Anda, bukan yang lainnya. Itulah pentingnya ilmu, dan ilmu itulah yang membedakan seseorang dengan yang lainnya, Ilmu Yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=50&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Anda pernah sakit gigi? Kemana Anda pergi berobat? Tentunya dokter gigi bukan? Kenapa Anda tidak pergi ke montir mobil atau tukang cukur tatkala Anda sakit gigi? Ya’, tepat sekali, karena dokter gigilah yang mengetahui masalah Anda, bukan yang lainnya. Itulah pentingnya ilmu, dan ilmu itulah yang membedakan seseorang dengan yang lainnya, Ilmu Yang Alloh Subhanallohu wa Ta’ala Turunkan.</p>
<p>Di antara nama-nama Alloh Subhanallohu wa Ta’ala yang husna (baik, bagus) adalah al ‘Aliim, yang artinya Maha Mengetahui. Alloh Subhanallohu wa Ta’ala adalah Dzat yang Maha Mengetahui, baik perkara-perkara yang lahir maupun yang batin, baik yang kecil, ataupun yang besar. Dan sifat ilmu Alloh Subhanallohu wa Ta’ala merupakan ilmu yang sempurna, tidak didahului oleh sifat kebodohan dan tidak pula dihinggapi sifat lupa. Sebagaimana firman-Nya, yang artinya: “Pengetahuan (ilmu) tentang hal itu, ada pada Tuhanku, di dalam sebuah kitab Tuhanku yang tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (QS: Thooha: 52) (Al Qowaa’idul Mutslaa, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin).<br />
<span id="more-50"></span><br />
Alloh Ta’ala menurunkan dua macam ilmu kepada manusia. Yaitu, ilmu duniawi dan ilmu syar’i. Adapun ilmu duniawi, hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah, yakni jika sudah ada orang yang mempelajarinya, gugurlah kewajiban orang yang lainnya. Dan ilmu duniawi ini bisa sebagai sarana untuk tujuan kebaikan atau untuk kejahatan, sehingga hukumnya pun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapainya. Sedangkan yang dimaksud dengan ilmu syar’i adalah ilmu yang diturunkan oleh Alloh Subhanallohu wa Ta’ala kepada Rosululloh Muhammad shollAlloh Subhanallohu wa Ta’ala u’alaihi wa sallam yang berupa keterangan-keterangan dan petunjuk yang terkait dengan keselamatan dan kebaikan seorang hamba, yang mana pemilik ilmu inilah yang mendapatkan pujian dari Alloh Subhanallohu wa Ta’ala . (Kitabul ‘Ilmi, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin).</p>
<p>Sebagaimana sabda Rosululloh, yang artinya: “Barangsiapa yang dirinya dikehendaki kebaikan oleh Alloh Subhanallohu wa Ta’ala , maka akan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala pahamkan dia tentang ilmu agama.” (HR: Al Bukhori).</p>
<p>Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala,  yang artinya: “…Alloh Subhanallohu wa Ta’ala akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS: Al Mujaadilah: 11). Hukum mempelajarinya adalah wajib bagi setiap muslim, berdasarkan sabda Rosululloh, yang artinya: “Menuntut ilmu (syar’i) adalah kewajiban bagi setiap muslim (baik laki-laki ataupun wanita).” (HR: Ibnu Majah, Abu Ya’la dan Ath Thobroni)</p>
<p>Dan ilmu syar’i inilah yang menjadi warisan para Nabi. Rosululloh bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham (harta benda), akan tetapi hanyalah mereka mewariskan ilmu syar’i, maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia mengambil bagian (warisan) yang banyak.” (HR: Abu Dawud dan Tirmidzi). Ilmu ini merupakan ilmu yang terlupakan dari perhatian kaum muslimin. Alloh Subhanallohu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akherat adalah lalai.” (QS: Ar Ruum: 7), yakni kebanyakan manusia tidaklah mempunyai ilmu kecuali tentang ilmu dunia, dan yang terkait dengannya. Mereka sangat pandai dengan hal tersebut, namun lalai dalam masalah-masalah agama mereka dan apa yang bisa memberikan manfaat bagi akherat mereka. (Tafsirul Quranil Azhim, Al Imam Ibnu Katsir).</p>
<p>Perlu diketahui, bahwasanya Alloh Subhanallohu wa Ta’ala membenci setiap orang yang pandai dalam masalah-masalah dunia namun bodoh tentang perkara akherat, Rosululloh bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Alloh Subhanallohu wa Ta’ala membenci setiap orang yang ‘alim (pandai) dalam perkara duniawi, namun jahil terhadap perkara akherat.” (Shahihul Jami’: 1875).</p>
<p>Menuntut Ilmu Syar’i (Ilmu Agama) = Jihad</p>
<p>Tatkala disebut kata jihad, yang tergambar dalam pikiran adalah perang dengan berbagai kesulitannya. Perlu diketahui, bahwa syariat jihad bertujuan agar agama Islam ini tegak di muka bumi. Dan Islam tidaklah tegak tanpa adanya jihad. Namun, perlu digaris bawahi, bahwasanya jihad ada dua bentuk, yang pertama adalah jihad dengan ilmu dan burhan (keterangan), dan yang kedua adalah jihad dengan perang dan pedang. Jihad yang pertama lebih didahulukan dibandingkan yang kedua, sebagaimana Rosululloh tidak akan memerangi suatu kaum sebelum dakwah sampai kepada mereka (Kitabul ‘Ilmi, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin).</p>
<p>Abu Darda, salah seorang sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, berkata, yang artinya: “Tidaklah seseorang pergi siang hari ke Masjid untuk kebaikan yang akan dipelajarinya atau diajarkannya, melainkan akan ditulis untuknya pahala sebagaimana pahala mujahid. Ia tidak pulang melainkan dalam keadaan mendapatkan rampasan perang.” Hal ini sesuai dengan sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu (agama), ia berada di jalan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala hingga ia pulang.” (HR: At Tirmidzi dan At Thobroni). Begitu pula Muadz bin Jabal, sahabat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, berkata, “Hendaklah kalian menuntut ilmu (agama), karena mempelajarinya dengan ikhlash membuat orang takut kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala , mengkajinya adalah ibadah, dan mendiskusikannya adalah tasbih, dan pergi mencarinya adalah jihad.” (Al ‘Ilmu, Al Imam Ibnul Qoyyim).</p>
<p>Ilmu Dulu, Baru Amal</p>
<p>Alloh Ta’ala berfirman, yang artinya: “…barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS: Al Kahfi: 110). Yakni siapa saja yang mengharap pahala dan balasan yang baik dari-Nya, hendaknya ia mengerjakan amal yang sholeh, yakni amal yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, dan tidak mempersekutukan Alloh Subhanallohu wa Ta’ala dalam beribadah, yakni hanya mengharap pahala dan wajah Alloh Subhanallohu wa Ta’ala semata dari amal ibadahnya.</p>
<p>Di dalam ayat ini, terdapat dua rukun amal sebagai syarat diterimanya amal tersebut oleh Alloh Subhanallohu wa Ta’ala , amal tersebut haruslah: (1) Ikhlash ditujukan kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala , dan (2) Sesuai dengan tuntunan dari Rosululloh. (Tafsirul Quranil ‘Azhim, Al Imam Ibnu Katsir). Maka dari itu, seseorang yang hendak mengerjakan amal ibadah, selain berusaha mengikhlashkan amal ibadahnya hanya kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala , juga harus mengetahui (mengilmui) apakah amal ibadahnya tersebut diperintahkan oleh Alloh Subhanallohu wa Ta’ala atau dituntunkan oleh Rosululloh. Karena tidaklah setiap amal perbuatan yang dimaksudkan untuk beribadah kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala mesti diterima oleh Alloh Subhanallohu wa Ta’ala . Rosululloh bersabda, yang artinya: “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan merupakan perintah kami, maka amal tersebut tertolak.” (HR: Muslim). Dengan begitu, ilmu lebih didahulukan daripada amal perbuatan.</p>
<p>Begitu pula dengan firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: “Ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali hanya Alloh Subhanallohu wa Ta’ala , dan mohonlah ampunan atas dosamu…” (QS: Muhammad: 19). Al Imam Al Bukhori menggunakan ayat ini sebagai dalil mengenai kewajiban memulai dengan ilmu sebelum berbicara dan beramal. Ini merupakan dalil dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwa manusia mengetahui terlebih dahulu, kemudian baru beramal. Sebab suatu ucapan maupun amalan tidak bisa diterima kecuali bila dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah, padahal tidak mungkin seseorang mengetahui bahwa amalnya sesuai dengan ketentuan syariah kecuali dengan ilmu (Syaroh Tsalaatsatul Ushul, Al Imam Ibnu ‘Utsaimin).</p>
<p>Bersikaplah Adil, Sahabat&#8230;.</p>
<p>Alloh Subhanallohu wa Ta’ala mengabarkan bahwa setelah meninggal, manusia akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh amal perbuatannya sewaktu hidup di dunia. Alloh Subhanallohu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Alloh tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, namun merekalah yang akan ditanya…” (QS: Al Anbiya’: 21). Kemudian manusia akan menempati tempatnya di akherat. Jika tempatnya di surga, di surgalah dia. Namun jika tempatnya di neraka, di nerakalah dia. Dan perlu diingat, bahwasanya kehidupan akherat itu kekal. Firman Alloh Subhanallohu wa Ta’ala, yang artinya: “Dan kehidupan akherat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS: Al A’laa: 17). Sebagaimana manusia tidak suka jika ada orang yang tidak adil kepadanya, maka hendaknya dia pun berbuat adil kepada Alloh Subhanallohu wa Ta’ala.</p>
<p>Jadi, tidaklah boleh seseorang hanya mementingkan kehidupan dunia tanpa memikirkan kehidupan akherat. Sehingga, kalau dia mampu meluangkan kesempatan belajar ilmu duniawi, tentunya dia pun harus bisa meluangkan kesempatan belajar ilmu syar’i. “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa…” (QS: Al Maidah: <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' />
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/50/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/50/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=50&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-warisan-nabi-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Ternyata Di Zaman Saat Ini Lebih Parah</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ternyata-di-zaman-saat-ini-lebih-parah/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ternyata-di-zaman-saat-ini-lebih-parah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:51:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ternyata-di-zaman-saat-ini-lebih-parah/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Diantara musibah besar yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu lembah hitam kesyirikan. Perbuatan dosa yang paling [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=49&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Diantara musibah besar yang menimpa kaum muslimin dewasa ini adalah acuh terhadap urusan agama dan sibuk dengan urusan dunia. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang terjerumus ke dalam hal-hal yang diharamkan Alloh karena sedikitnya pemahaman tentang permasalahan-permasalahan agama. Dan jurang terdalam yang mereka masuki yaitu lembah hitam kesyirikan.<br />
Perbuatan dosa yang paling besar inipun begitu samar bagi kebanyakan manusia karena kejahilan mereka dan rajinnya setan dalam meyesatkan manusia sebagaimana yang dikisahkan Alloh tentang sumpah iblis, yang artinya: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (QS: Al-A’rof: 16). Bahkan kesyirikan hasil tipudaya iblis yang terjadi pada masa kita sekarang ini lebih parah daripada kesyirikan yang terjadi pada zaman Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam…!! Kenapa bisa demikian ?<br />
<span id="more-49"></span><br />
Kemusyrikan Zaman Dahulu Hanya di Waktu Lapang</p>
<p>Sesungguhnya orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh melakukan kesyirikan hanya ketika dalam keadaan lapang saja. Namun tatkala mereka dalam keadaan sempit, terjepit, susah dan ketakutan mereka kembali mentauhidkan Alloh, hanya berdo’a kepada Alloh saja dan melupakan segala sesembahan selain Alloh. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Alloh tentang keadaan mereka, yang artinya: “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS: Al-Isra’: 67).</p>
<p>“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Alloh) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Alloh untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka’.” (QS: Az-Zumar: 8).</p>
<p>Itulah keadaan musyrikin zaman dahulu, lalu bagaimana keadaan musyrikin pada zaman kita ini? Ternyata sama saja bagi orang-orang musyrik zaman kita ini, baik dalam waktu lapang ataupun sempit tetap saja mereka menjadikan bagi Alloh sekutu. Tatkala punya hajatan (misalnya pernikahan, membangun rumah ataupun yang lainnya) mereka memberikan sesajen ke tempat-tempat yang dianggap keramat. Tatkala sesuatu ketika terkena musibah, mereka beranggapan bahwa mereka telah kuwalat terhadap yang mbaurekso (jin penunggu) kampungnya kemudian meminta ampun dan berdoa kepadanya agar menghilangkan musibah itu atau pergi ke dukun untuk menghilangkannya. Ini adalah bentuk kesyirikan kepada Alloh yang amat nyata. Alloh berfirman, yang artinya: “Hanya bagi Alloh-lah (hak mengabulkan) doa yang benar. Dan sesuatu yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatupun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS: Ar-Ro’du: 14)</p>
<p>Sesembahan Musyrikin Dulu Lebih Mending Sholehnya</p>
<p>Orang-orang musyrik pada zaman Rosululloh Sholallohu ‘alaihi wasallam menjadikan sekutu bagi Alloh dari dua kelompok, yang pertama adalah hamba-hamba Alloh yang sholeh, baik dari kalangan para nabi, malaikat ataupun wali. Dan yang kedua adalah seperti pohon, batu dan lainnya. Lalu bagaimana keadaan orang-orang musyrik zaman kita? Saking parahnya keadaan mereka, orang-orang yang telah mereka kenal sebagai orang suka berbuat maksiatpun mereka sembah dan diharapkan berkahnya. Lihat betapa banyak orang yang berbondong-bondong ngalap berkah ke makam Pangeran Samudro dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus, Sragen. Diceritakan bahwa mereka berdua adalah seorang anak dan ibu tiri (permaisuri raja) dari kerajaan Majapahit yang berselingkuh, kemudian mereka diusir dari kerajaan dan menetap di Gunung Kemukus hingga meninggal. Konon sebelum meninggal Pangeran Samudro berpesan bahwa keinginan peziarah dapat terkabul jika melakukan seperti apa yang ia lakukan bersama ibu tirinya. Sehingga sebagai syarat “mujarab” untuk mendapat berkah di sana, harus dengan berselingkuh dulu…!! Allohu Akbar!</p>
<p>Musyrikin Zaman Dahulu Tidak Menyekutukan Alloh Dalam Rububiyah-Nya</p>
<p>Tauhid Rububiyah adalah mengikrarkan bahwa Alloh lah satu-satunya pencipta segala sesuatu, yang memberikan rizki, yang menghidupkan dan mematikan serta hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Alloh. Ini semua diakui oleh orang-orang musyrik zaman dahulu. Dalilnya adalah firman Alloh, yang artinya: “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: ‘Alloh’, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Alloh )?.” (QS: Az-Zukhruf: 87).</p>
<p>Juga firman-Nya, yang artinya: “Katakanlah: ‘Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab: ‘Alloh.’ Maka katakanlah ‘Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’.” (QS: Yunus: 31).</p>
<p>Akan tetapi titik penyimpangan mereka yaitu kesyirikan dalam Tauhid Uluhiyah (mengikrarkan bahwa hanya Alloh sajalah yang berhak ditujukan kepada-Nya segala bentuk ibadah, seperti do’a, nadzar, menyembelih kurban dan lain-lain). Inilah yang diingkari oleh musyrikin zaman dulu. Mereka berdoa kepada patung atau penghuni kubur bukan dengan keyakinan bahwa patung itu bisa mengabulkan do’a mereka atau punya kekuasaan untuk mendatangkan keburukan, namun yang mereka maksudkan hanyalah supaya patung (sebagai perwujudan dari orang sholeh) atau penghuni kubur itu dapat menyampaikan do’a mereka kepada Alloh. Mereka berkeyakinan bahwa orang sholeh itu yang telah diwujudkan/dilambangkan dalam bentuk gambar/patung tersebut mempunyai kedudukan mulia di sisi Alloh. Sementara mereka merasa banyak berbuat dosa dan maksiat, sehingga tidak pantas meminta langsung kepada Alloh, tetapi harus melalui perantara. Inilah yang mereka kenal dengan meminta syafa’at pada sesembahan mereka Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, yang artinya: “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Alloh dengan sedekat- dekatnya.” (QS: Az-Zumar: 3)</p>
<p>Lalu bagaimana keadaan musyrikin sekarang ini? Diantara mereka ada yang berkeyakinan bahwa yang memberikan jatah ikan bagi nelayan, yang mengatur ombak laut selatan adalah Nyi Roro Kidul. Sungguh tidak seorang pun dapat menciptakan seekor ikan kecil pun, ini adalah hak khusus Alloh dalam Rububiyah-Nya, tetapi mereka menisbatkannya kepada Nyi Roro Kidul. Allohu akbar! betapa keterlaluan dan lancangnya terhadap Pencipta alam semesta!!! Sehingga tidaklah heran pula jika banyak diantara masyarakat yang takut memakai baju hijau tatkala berada di pantai selatan, karena khawatir ditelan ombak yang telah diatur oleh Nyi Roro Kidul.</p>
<p>Lihatlah, betapa orang-orang musyrik zaman dahulu lebih berakal daripada orang-orang musyrik sekarang ini. Karena maraknya bentuk-bentuk kesyirikan dan samarnya hal tersebut sudah seharusnya setiap kita untuk mempelajari ilmu tauhid agar dapat menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari segala macam bentuk kesyirikan. Sungguh betapa jahilnya orang yang mengatakan “Untuk apa belajar tauhid sekarang ini?”</p>
<p>Akhirnya kita memohon kepada Alloh agar memberikan kepada kita taufik dan menjauhkan diri kita dari berbagai macam bentuk kesyirikan yang merupakan sebab kehancuran di dunia maupun di akhirat. Wallohu A’lam.
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=49&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ternyata-di-zaman-saat-ini-lebih-parah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Seorang Muslim Dalam Menyikapi Tahun Baru Masehi</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-seorang-muslim-dalam-menyikapi-tahun-baru-masehi/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-seorang-muslim-dalam-menyikapi-tahun-baru-masehi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-seorang-muslim-dalam-menyikapi-tahun-baru-masehi/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Sebagian besar manusia memiliki sebuah kebiasaan yang dianggap sebuah tradisi dunia dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=48&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Sebagian besar manusia memiliki sebuah kebiasaan yang dianggap sebuah tradisi dunia dalam memasuki tahun baru di berbagai belahan dunia adalah dengan merayakannya, seperti begadang semalam suntuk, pesta kembang api, tiup terompet pada detik-detik memasuki tahun baru, wayang semalam suntuk bahkan tidak ketinggalan dan sudah mulai ngetrend di beberapa tempat diadakan dzikir berjama’ah menyongsong tahun baru. Namun apakah kita pernah mengetahui bagaimana Syariat Islam dalam hal ini ? <b>Bolehkah Merayakannya?</b></p>
<p>Tahun baru tidak termasuk salah satu hari raya Islam sebagaimana ‘Iedul Fitri, ‘Iedul Adha ataupun hari Jum’at. Bahkan hari tersebut tergolong rangkaian kegiatan hari raya orang-orang kafir yang tidak boleh diperingati oleh seorang muslim.<br />
<span id="more-48"></span><br />
Suatu ketika seorang lelaki datang kepada Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa karena ia telah bernadzar memotong hewan di Buwanah (nama sebuah tempat), maka Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam menanyakan kepadanya: “Apakah disana ada berhala sesembahan orang Jahiliyah?” Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bertanya, “Apakah di sana tempat dirayakannya hari raya mereka?” Dia menjawab, “Tidak”. Maka Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Tunaikan nadzarmu, karena sesungguhnya tidak boleh melaksanakan nadzar dalam maksiat terhadap Alloh dan dalam hal yang tidak dimiliki oleh anak Adam”. (HR: Abu Daud dengan sanad yang sesuai dengan syarat Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Hadits ini menunjukkan terlarangnya menyembelih untuk Alloh di tempat yang bertepatan dengan tempat yang digunakan untuk menyembelih kepada selain Alloh, atau di tempat orang-orang kafir merayakan pesta atau hari raya. Sebab itu berarti mengikuti mereka dan menolong mereka di dalam mengagungkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Perbuatan ini juga menyerupai perbuatan mereka dan menjadi sarana yang mengantarkan kepada syirik. Apalagi ikut merayakan hari raya mereka, maka di dalamnya terdapat wala’ (loyalitas) dan dukungan dalam menghidupkan syi’ar-syi’ar kekufuran. Akibat paling berbahaya yang timbul karena berwala’ terhadap orang kafir adalah tumbuhnya rasa cinta dan ikatan batin kepada orang-orang kafir sehingga dapat menghapuskan keimanan.</p>
<p>Keburukan Yang Ditimbulkan</p>
<p>Seorang muslim yang ikut-ikutan merayakan tahun baru akan tertimpa banyak keburukan, diantaranya:</p>
<p>    * Merupakan salah satu bentuk tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kafir yang telah dilarang oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.<br />
    * Melakukan amal ketaatan seperti dzikir, membaca Al Qur’an, dan sebagainya yang dikhususkan menyambut malam tahun baru adalah pebuatan bid’ah yang menyesatkan.<br />
    * Ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita seperti yang kita lihat pada hampir seluruh perayaan malam tahun baru bahkan sampai terjerumus pada perbuatan zina, Na’udzubillahi min dzaalika…<br />
    * Pemborosan harta kaum muslimin, karena uang yang mereka keluarkan untuk merayakannya (membeli makanan, bagi-bagi kado, meniup terompet dan lain sebagainya) adalah sia-sia di sisi Alloh subhanahu wa ta’ala. Serta masih banyak keburukan lainnya baik berupa kemaksiatan bahkan kesyirikan kepada Alloh. Wallahu a’lam…
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/48/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/48/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=48&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-seorang-muslim-dalam-menyikapi-tahun-baru-masehi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Beriman Kepada Hari Akhir</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-beriman-kepada-hari-akhir/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-beriman-kepada-hari-akhir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:49:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-beriman-kepada-hari-akhir/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Hari akhir sering kali diperbincangkan oleh sebagian umat manusia. Meski diperbincangkan namun tidak banyak yang mencoba bersiap untuk menyambut kehadirannya. Memang di sana ada beberapa golongan manusia yang menyikapi tentang kehidupan yang lain ini, dan ada pula yang mengingkarinya, ada yang ragu dan ada pula yang beriman kepadanya yang disebutkan terakhir adalah orang-orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=47&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Hari akhir sering kali diperbincangkan oleh sebagian umat manusia. Meski diperbincangkan namun tidak banyak yang mencoba bersiap untuk menyambut kehadirannya. Memang di sana ada beberapa golongan manusia yang menyikapi tentang kehidupan yang lain ini, dan ada pula yang mengingkarinya, ada yang ragu dan ada pula yang beriman kepadanya yang disebutkan terakhir adalah orang-orang mukmin yang bertakwa kepada Alloh ‘Azza wa Jalla.</p>
<p>Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: &#8220;alif lam mim, inilah alkitab yang tidak ada keraguan didalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa yaityu yang beriman dengan hal-hal yang ghoib.…&#8221; (QS: Al-Baqarah: 1-5)<br />
<span id="more-47"></span><br />
Orang-orang mukmin merekalah yang percaya secara pasti tentang datangnya hari tersebut, diawali dengan kehidupan di alam kubur kemudian Alloh ‘Azza wa Jalla bangkitkan manusia dari kubur mereka, dihisab dan dibalas perbuatan mereka sehingga penduduk surga menempati tempat mereka dan penduduk neraka menempati tempat mereka pula.</p>
<p>Beriman kepada hari akhir meliputi 2 hal:</p>
<p>   1.<br />
      yaitu beriman kepada adanya kebangkitan dan dihimpunkannya manusia. Setelah kematian seluruh manusia, Alloh ‘Azza wa Jalla kemudian menghidupkan kembali orang-orang mati dari kubur mereka serta dikembalikan setiap ruh kepada tubuhnya lalu bangkitlah umat manusia untuk menghadap kepada tuhan mereka. Mereka dihimpunkan dan dikumpulkan didalam suatu keadaan tanpa alas kaki, telanjang tanpa berpakaian dan belum berkhitan. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: &#8220;kemudian sesudah itu sesungguhnya kalian benar-benar akan mati , kemudian sensungguhnya kamu sekalian akan dibangkitakan dari kuburmu dihari kiamat&#8221; (QS: Al &#8211; Mukminun: 15-16)<br />
      Tentang penghimpunan dan pengumpulan manusia, Rasululloh ShalAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: &#8220;pada hari kiamat manusia dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang dan tanpa dihitan&#8221; (mutafaqun alaih)<br />
   2.<br />
      Beriman dengan hisab (perhitungan amal) dan mizan atau (timbangan amal) Allah menghitung amal setiap manusaia berdasarkan amal yang mereka lakukan di dunia. Barang siapa termasuk ahli tauhid dan taat kepada Alloh ‘Azza wa Jalla  serta rasulNya ia akan mendapatkan perhitungan yang mudah dan ringan. Sebaliknya barang siapa termasuk ahli syirik dan maksiat akan mendapati hisab yang sulit dan berat.</p>
<p>Selanjutnya amal perbuatan itu ditimbang dalam timbangan kebaikan diletakkan dalam suatu bejana timbangan dan keburukan diletakkan dalam bejana yang lain . barang siapa yang kebaikannya lebih berat dari pada keburukannya maka termasuk penduduk surga, sebaliknya segala keburukan lebih berat, maka termasuk penduduk neraka.</p>
<p>Firman Alloh ‘Azza wa Jalla berkaitan dengan perhitungan amal ini, yang artinya: &#8220;Adapun orang yang diberi kitabnya dari sebelah kanan, maka dia akan dihitung amalnya dengan perhitungan yang mudah, dan dia akan kembali kepada kaumnyadengan tgembira. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya dari belakang dia akan berteriak celakalah aku dan dia akan masuk kedalam api yang menyala-nyala. &#8221; (QS: Al-Insyiqoq: 7- 12)</p>
<p>Tentang Mizan Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: &#8220;Kami akan memasang timbangan yang tepat/adil pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang sedikitpun . dan jika amalan itu hanya sebesar biji sawi pun pasti kami mendatangkan (pahala)-Nya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan&#8221; (QS: Al Anbiyaa&#8217;: 47)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/47/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/47/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=47&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-beriman-kepada-hari-akhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Makna &#8220;Muhammad Rasululloh&#8221;</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-makna-muhammad-rasululloh/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-makna-muhammad-rasululloh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:49:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-makna-muhammad-rasululloh/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Seorang Muslim sudah seharusnya mengetahui, memahami dan mengamalkan hal-hal yang paling mendasar dalam Syariat Islam ini, sebelum melangkah lebih jauh. Salah satunya yang harus kita ketahui adalah Makna &#8220;Muhammad Rasululloh&#8221;, sehingga setelah kita memahaminya kita dapat mengamalkan dan tidak melangkah ke arah yang tidak benar dan samar. &#8220;Muhammad Rasululloh&#8221; bermakna beriman bahwasanya Muhammad [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=46&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Seorang Muslim sudah seharusnya mengetahui, memahami dan mengamalkan hal-hal yang paling mendasar dalam Syariat Islam ini, sebelum melangkah lebih jauh. Salah satunya yang harus kita ketahui adalah Makna &#8220;Muhammad Rasululloh&#8221;, sehingga setelah kita memahaminya kita dapat mengamalkan dan tidak melangkah ke arah yang tidak benar dan samar.</p>
<p>&#8220;Muhammad Rasululloh&#8221; bermakna beriman bahwasanya Muhammad Shallallahu&#8217;alaihi wasallam sebagai utusan Alloh, adalah membenarkan apa yang dikabarkannya, menta&#8217;ati apa yang diperintahkannya, dan meninggalkan apa yang dilarang dan diperingat-kan darinya, serta kita menyembah Allah dengan apa yang disyari&#8217;atkannya.<br />
<span id="more-46"></span><br />
Syaikh Abul Hasan An-Nadwy herkata dalam buku &#8220;An-Nubuwwah&#8221; sebagai berikut, &#8220;Para nabi, dakwah pertama dan tujuan terbesar mereka di setiap masa adalah meluruskan aqidah (keyakinan) terhadap Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Meluruskan hubungan antara hamba dengan Tuhannya. Mengajak memurnikan agama ini untuk Alloh dan hanya beribadah kepada Alloh semata. Sesungguhnya Dia (Alloh) Dzat yang memberikan manfa&#8217;at. Yang mendatangkan mudharat. Yang berhak menerima ibadah, do&#8217;a, penyandaran diri (iltija&#8217;) dan sembelihan. Dahulu, dakwah para nabi diarahkan kepada orang-orang yang menyembah berhala, yang secara terang-terangan menyembah berhala-berhala, patung-patung dan orang-orang shalih yang dikultuskan, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati.</p>
<p>Alloh Subhanahu wa Ta&#8217;ala  berfirman kepada Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wasallam, yang artinya:  &#8220;Katakanlah, &#8216;Aku tidak berkuasa menarik kemanfa&#8217;atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Alloh. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan membawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman&#8217;.&#8221; (QS: Al-A&#8217;raaf: 188)</p>
<p>Dan Nabi Shallallahu&#8217;alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: &#8220;Janganlah kalian berlebih-lebihan memuji (menyanjung) diriku, sebagaimana orang-orang Nasrani berlebih-lebihan memuji Ibnu Maryam (Isa). Sesungguhnya aku adalah hamba Allah maka Katakanlah: &#8216;Hamba Allah dan RasulNya&#8217;.&#8221; (HR: Al-Bukhari)</p>
<p>Makna &#8220;Al-Itharuuan&#8221;  ialah berlebih-lebihan dalam memuji (menyanjung). Kita tidak menyembah kepada Muhammad, sebagaimana orang-orang Nasrani menyembah Isa Ibnu Maryam, sehingga mereka terjerumus dalam kesyirikan. Dan Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita untuk mengatakan: &#8220;Muhammad hamba Alloh dan RasulNya.&#8221;</p>
<p>Sesungguhnya kecintaan kepada Rasul Shallallahu&#8217;alaihi wa Sallam adalah berupa keta&#8217;atan kepadaNya, yang diekspresikan dalam bentuk berdo&#8217;a (memohon) kepada Alloh semata dan tidak berdo&#8217;a kepada selainNya, meskipun ia seorang rasul atau wali yang dekat (di sisi Alloh).</p>
<p>Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa Sallam bersabda, yang artinya: &#8220;Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Alloh dan apabila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertoongan dari Alloh.&#8221; (HR: At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih)</p>
<p>Dan apabila Rasululloh Shallallahu&#8217;alaihi wa Sallam dirundung duka cita, maka beliau membaca: &#8220;Wahai Dzat yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan.&#8221; (HR: At-Tirmidzi, hadits hasan)</p>
<p>Semoga Alloh merahmati penyair yang berkata, &#8220;Ya Alloh, aku memintaMu untuk menghilangkan kesusahan kami. Dan kesusahan ini, tiada yang bisa menghapusnya kecuali Engkau, ya Alloh.&#8221;</p>
<p>(Sumber Rujukan: Al Firqotun Naajiyah, Asy-Syaikh Muhammad Jamil Zainu)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=46&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-makna-muhammad-rasululloh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Riya’ dalam ibadah</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-riya-dalam-ibadah/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-riya-dalam-ibadah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:48:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-riya-dalam-ibadah/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Di antara syarat diterimanya amal shalih adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain maka ia telah terjerumus pada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya shalat agar dilihat orang lain atau membaca Al Qur&#8217;an agar dipuji oleh orang yang mendengarkannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=45&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Di antara syarat diterimanya amal shalih adalah bersih dari riya’ dan sesuai dengan sunnah. Orang yang melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat orang lain maka ia telah terjerumus pada perbuatan syirik kecil, dan amalnya menjadi sia-sia belaka. Misalnya shalat agar dilihat orang lain atau membaca Al Qur&#8217;an agar dipuji oleh orang yang mendengarkannya dan banyak lagi contoh sederhana yang sering dilalaikan</p>
<p>Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Alloh, dan Alloh akan membalas tipuan mereka. Dan apa bila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan Allah. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS: An Nisaa: 142)<br />
<span id="more-45"></span><br />
Demikian juga jika ia melakukan suatu amalan dengan tujuan agar diberitakan dan didengar oleh orang lain, ia termasuk syirik kecil. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam memberi peringatan kepada mereka dalam hadits yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu’anhu, yang artinya: “Barangsiapa melakukan perbuatan sum’ah, niscaya Allah akan menyebarkan aibnya dan barang siapa melakukan perbuatan riya’ niscaya Allah akan menyebarkan aibnya”. (HR: Muslim: 4/2289)</p>
<p>Barangsiapa melakukan suatu ibadah tetapi ia melakukannya karena mengharap pujian manusia di samping ridha Alloh Subhanahu wa Ta’ala maka amalannya  menjadi sia-sia belaka, seperti disebutkan dalam hadits qudsi, yang artinya: “ku adalah sekutu yang Maha Cukup, sangat menolak perbuatan syirik, barangsiapa melakukan suatu amal dengan dicampuri perbuatan syirik kepadaKu, niscaya Aku tinggalkan dia dan (tidak aku terima) amal syiriknya”. (HR: Muslim. Hadits no: 2985)</p>
<p>Barangsiapa melakukan suatu amal shalih, tiba-tiba terdetik dalam hatinya perasaan riya’, tetapi ia membenci perasaan tersebut berusaha melawan dan menyingkirkannya maka amalannya tetap sah. Berbeda halnya jika ia hanya diam dengan timbulnya perasaan riya’ tersebut, tidak berusaha menyingkirkan bahkan malah menikmatinya maka menurut sebagian besar ulama, amal yang dilakukannya menjadi batal dan sia-sia.</p>
<p>(Sumber: Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa, Oleh Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=45&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-riya-dalam-ibadah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Merasa Bernasib Sial atau Meramal Nasib Buruk</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-merasa-bernasib-sial-atau-meramal-nasib-buruk/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-merasa-bernasib-sial-atau-meramal-nasib-buruk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:48:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-merasa-bernasib-sial-atau-meramal-nasib-buruk/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Dahulu diantara tradisi orang Arab adalah jika salah seorang mereka hendak melakukan suatu pekerjaan, bepergian misalnya maka mereka meramal peruntungannya dengan burung. Salah seorang dari mereka memegang burung lalu melepaskannya. Jika burung itu terbang kearah kanan maka ia optimis sehingga melangsungkan pekerjaannya, sebaliknya, jika burung itu terbang ke arah kiri maka ia merasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=44&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Dahulu diantara tradisi orang Arab adalah jika salah seorang mereka hendak melakukan suatu pekerjaan, bepergian misalnya maka mereka meramal peruntungannya dengan burung. Salah seorang dari mereka memegang burung lalu melepaskannya. Jika burung itu terbang kearah kanan maka ia optimis sehingga melangsungkan pekerjaannya, sebaliknya, jika burung itu terbang ke arah kiri maka ia merasa bernasib sial dan mengurungkan pekerjaan yang diinginkannya.</p>
<p>Thiyarah adalah merasa bernasib sial atau meramal nasib buruk karena melihat burung, binatang lainnya atau apa saja. Alloh Subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata : Ini adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya”. (QS: Al A’raf: 131)<br />
<span id="more-44"></span><br />
Oleh Nabi Shallallahu’alaihi wasallam hukum perbuatan tersebut diterangkan dalam sabdanya , yang artinya: “Thiyarah adalah syirik”</p>
<p>Termasuk dalam kepercayaan yang diharamkan, yang juga menghilangkan kesempurnaan tauhid adalah merasa bernasib sial dengan bulan–bulan tertentu. Seperti tidak mau melakukan pernikahan pada bulan shafar. Juga kepercayaan bahwa hari rabu yang jatuh pada akhir setiap bulan membawa kerugian terus menerus. Termasuk juga merasa sial dengan angka 13, nama-nama tertentu atau orang cacat. Misalnya, jika ia pergi membuka tokonya lalu di jalan melihat orang buta sebelah matanya, serta merta ia merasa bernasib sial  sehingga mengurungkan niat membuka toko. Juga berbagai kepercayaan yang semisalnya.</p>
<p>Semua hal di atas hukumnya haram dan termasuk syirik. Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam berlepas diri dari mereka. Sebagaiman disebutkan dalam hadits riwayat Imran bin Hushain, yang artinya: “Tidak termasuk golongan kami  orang yang melakukan atau meminta tathayyur, meramal atau meminta diramalkan (dan saya kira juga bersabda) dan yang menyihir atau yang meminta disihirkan&#8221; (HR: At Thabrani dalam Al Kabir: 18 / 162, lihat shahihul jami’ no: 5435).</p>
<p>Orang yang terjerumus melakukan hal-hal diatas hendaknya membayar kaffarat (denda) sebagaimana yang dituntunkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Barangsiapa yang (kepercayaan) thiyarahnya  mengurungkan hajat (yang hendak dilakukannya) maka ia telah berlaku syirik, mereka bertanya:  Wahai Rasululloh, apa kaffarat (tebusan)  dari padanya? Beliau bersabda: Hendaklah salah seseorang dari mereka mengatakan: “ ya Alloh, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiada kesialan kecuali kesialan dari Engkau dan tidak ada  sembahan yang hak selain Engkau&#8221; (HR: Imam Ahmad: 2/220, As silsilah Ash shahihah no: 1065 (hadits ini lemah, sebaiknya disebutkan dengan menerangkan kelemahannya, bin Baz))</p>
<p>Merasa pesimis atau bernasib sial termasuk salah satu tabiat jiwa manusia. Suatu saat, perasaan itu menekan begitu kuat dan pada saat yang lain melemah. Penawarnya yang paling ampuh adalah tawakkal kepada Alloh.</p>
<p>Ibnu Masud Radhiallahu’anhu berkata, yang artinya: “Dan tiada seorangpun di antara kita kecuali telah terjadi dalam jiwanya sesuatu dari hal ini, hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal (kepadaNya)&#8221; [HR: Abu Dawud, no: 3910, dalam silsilah Ash Shahihah hadits no: 430)</p>
<p>(Sumber: Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa, Asy-Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid)
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=44&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-merasa-bernasib-sial-atau-meramal-nasib-buruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untaian Mutiara Aqidah: Ketakutan Para Malaikat</title>
		<link>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ketakutan-para-malaikat/</link>
		<comments>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ketakutan-para-malaikat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jul 2007 09:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>maherani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Al Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Aqidah Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Arsip Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[At Tauhid]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Moslem]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>
		<category><![CDATA[Religius]]></category>
		<category><![CDATA[Tarbiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ketakutan-para-malaikat/</guid>
		<description><![CDATA[MediaMuslim.Info &#8211; Diriwayatkan bahwa para malaikat yang menyangga &#8216;Arsy, ada yang matanya menangis seperti aliran sungai. Jika malaikat itu menengadahkan kepalanya, maka dia berkata, &#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada yang layak ditakuti kecuali menurut hak ketakutan kepada-Mu&#8221;. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: &#8220;Tetapi orang-orang yang bersumpah atas nama-Ku justru berbuat dusta, dan mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=43&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.mediamuslim.info/">MediaMuslim.Info</a> &#8211;  Diriwayatkan bahwa para malaikat yang menyangga &#8216;Arsy, ada yang matanya menangis seperti aliran sungai. Jika malaikat itu menengadahkan kepalanya, maka dia berkata, &#8220;Maha Suci Engkau, tidak ada yang layak ditakuti kecuali menurut hak ketakutan kepada-Mu&#8221;. Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: &#8220;Tetapi orang-orang yang bersumpah atas nama-Ku justru berbuat dusta, dan mereka tidak mengetahui hal ini&#8221;.</p>
<p>Dari Jabir, dia berkata, &#8220;Rasululloh ShalAllohu ‘alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Pada malam aku melakukan isra&#8217;, aku melihat Jibril seperti geriba yang basah kuyup karena takut kepada Alloh.&#8221;<br />
<span id="more-43"></span><br />
Diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Rasululloh ShalAllohu ‘alaihi wa sallam sambil menangis. Beliau bertanya &#8220;Apa yang membuat engkau menangis?&#8221; Jibril menjawab, &#8220;Mataku tidak pernah berhenti menangis semenjak Allah menciptakan neraka Jahannam, karena aku takut akan mendurhakai-Nya, lalu Dia akan melemparkan aku kedalamnya&#8221;.</p>
<p>Dari Yazid Ar-Ruqasyi, dia berkata, &#8220;Sesungguhnya Alloh mempunyai para malaikat yang berada disekitar &#8216;Arsy. Mata mereka menangis layaknya sungai hingga hari kiamat tiba. Mereka bergetar seakan diguncang angin karena takut kepada Allah.&#8221; Alloh ‘Azza wa Jalla berfirman, yang artinya: &#8220;Wahai para malaikat-Ku apa yang membuat kalian takut sementara kalian ada disisi-Ku&#8221;, para malaikat menjawab &#8220;Ya Rabbi, andaikata penghuni bumi melihat kemuliaan dan keagungan Engkau seperti yang kami lihat ini tentu mereka tidak sanggup makan dan minum, tidak sanggup tidur, lalu mereka keluar ke tengah padang pasir untuk menguak di sana seperti sapi yang menguak.&#8221;</p>
<p>Muhammad bin Al-Munkadir berkata &#8220;Tatkala neraka diciptakan maka jantung para malaikat lepas dari tempatnya . Lalu tatkala Adam diciptakan jantung mereka pun kembali ke tempatnya semula&#8221;.
<p>Disalin dari: <a href="http://www.arsipmoslem.wordpress.com/">Arsip Moslem Blogs</a><i> dan sumber artikel dari <a href="http://www.mediamuslim.info/">Media Muslim Info</a></i></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/maherani.wordpress.com/43/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/maherani.wordpress.com/43/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/maherani.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/maherani.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/maherani.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/maherani.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/maherani.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/maherani.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/maherani.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/maherani.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/maherani.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/maherani.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/maherani.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/maherani.wordpress.com/43/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/maherani.wordpress.com/43/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/maherani.wordpress.com/43/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=maherani.wordpress.com&amp;blog=1428207&amp;post=43&amp;subd=maherani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://maherani.wordpress.com/2007/07/25/mutiara-aqidah-islam-ketakutan-para-malaikat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2a4e27123f55f8dcbd3bef54a2eaaf8c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">maherani</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
